Despite ongoing global economic uncertainty, investment participation in Indonesia continues to show encouraging momentum. By the end of 2025, the number of domestic capital market investors had increased by around 35 percent compared to the previous year. This achievement reflects growing public interest in formal investment instruments and highlights the significant potential of the capital market as a source of development financing.
Board of Trustees of Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Ilya Avianti views this growth as an important initial asset. However, she emphasized that this achievement must be reinforced with strong institutional foundations so it can become a structural force for the national economy.
One of the main foundations highlighted is the rule of law. Ilya stressed that legal certainty is a primary prerequisite for a healthy and sustainable investment climate. Without consistent and fair law enforcement, investors will tend to be more cautious in making long-term decisions. “Legal certainty makes investors feel secure. They know that when problems arise, there is a fair and clear mechanism to resolve them,” she said.
Beyond the legal aspect, regulation also plays a crucial role. According to Ilya, the main challenge today is not the lack of rules, but the excessive number of regulations that are not yet optimally coordinated. Overlapping regulations from different institutions can create new uncertainties and make investors who were initially interested become hesitant.
Therefore, regulatory reform needs to be directed toward simplification and harmonization. Concise and clear regulations will reduce compliance costs while speeding up investment decision-making processes. “If all investment products and instruments are regulated in a simple and clear manner, investors will feel more comfortable,” Ilya explained.
She believes that the government’s steps in deregulation and bureaucratic reform are already moving in the right direction. However, the future challenge is to ensure that all policies are interconnected and do not contradict one another.
With strong rule of law and well-organized regulations, Ilya is confident that the growth in the number of investors will continue and potentially strengthen further in 2026. More than that, this achievement can become a solid foundation for more stable, inclusive, and competitive long-term economic development.
***
Ilya Avianti: Investasi Tumbuh, Fondasi Hukum dan Regulasi Perlu Diperkuat
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, partisipasi investasi di Indonesia tetap menunjukkan sinyal yang menggembirakan. Menurut Bursa Efek Indonesia, hingga akhir 2025, jumlah investor pasar modal domestik meningkat sekitar 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi formal sekaligus memperlihatkan potensi besar pasar modal sebagai sumber pembiayaan pembangunan.
Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Ilya Avianti menilai bahwa pertumbuhan tersebut merupakan modal awal yang sangat penting. Di sisi lain, capaian tersebut perlu diperkuat dengan fondasi institusional agar mampu menjadi kekuatan struktural bagi perekonomian nasional.
Salah satu fondasi utama yang disoroti adalah supremasi hukum. Ilya menekankan bahwa kepastian hukum merupakan prasyarat utama bagi iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan. Tanpa penegakan hukum yang konsisten dan adil, investor akan cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan jangka panjang. “Kepastian hukum membuat investor tenang. Mereka tahu bahwa ketika terjadi masalah, ada mekanisme yang adil dan jelas untuk menyelesaikannya,” ujarnya.
Selain hukum, aspek regulasi juga memegang peranan penting. Ilya menilai tantangan utama saat ini bukan kurangnya aturan, melainkan terlalu banyaknya regulasi yang belum terkoordinasi secara optimal. Tumpang tindih aturan dari berbagai lembaga justru bisa menimbulkan ketidakpastian baru dan membuat investor yang awalnya tertarik menjadi ragu.
Karena itu, reformasi regulasi perlu diarahkan pada penyederhanaan dan harmonisasi. Regulasi yang ringkas dan jelas akan menurunkan biaya kepatuhan sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan investasi. “Kalau semua produk dan instrumen investasi diatur secara sederhana dan jelas, investor akan merasa lebih nyaman,” kata Ilya.
Dia menilai, langkah pemerintah dalam melakukan deregulasi dan reformasi birokrasi sudah berada di arah yang tepat. Namun, ke depan tantangannya adalah memastikan seluruh kebijakan saling terhubung dan tidak saling bertabrakan.
Dengan supremasi hukum yang kuat dan regulasi yang rapi, Ilya yakin bahwa pertumbuhan jumlah investor akan terus berlanjut dan berpotensi semakin menguat pada 2026. Lebih dari itu, capaian ini dapat menjadi fondasi kokoh bagi pembangunan ekonomi yang lebih stabil, inklusif, dan berdaya saing dalam jangka panjang.